Pembacaan teks proklamasi kemerdekaan

Tujuan Pembelajaran : rekan rencang sinau dapat mengetahui proklamasi Indonesia

Hasil gambar untuk gambar perumusan teks proklamasi

Pembacaan Teks Proklamasi Kemerdekaan menurut rencana Sukarno akan dilakukan di Lapangan Ikada, namun dialihkan di rumah Sukarno, Jl. Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta. Penyebab dialihkannya tempat tersebut karena di Lapangan Ikada telah berkumpul pasukan Jepang dengan senjata lengkap. Upacara proklamasi dihadiri oleh sejumlah tokoh bangsa Indonesia dengan pengawalan para pemuda.

Upacara dimulai pada pukul 10.00 WIB dengan tata urutannya adalah berikut ini:

  1. Sambutan yang dilakukan oleh dua anggota panitia.
  2. Sambutan yang dilakukan oleh Mohammad Hatta
  3. Pembacaan Teks Proklamasi Kemerdekaan yang dilakukan oleh Sukarno
  4. Pengibaran bendera Merah Putih oleh Latief Hendraningrat dan Suhud, yang dengan spontan para hadirin menyanyikan lagu “Indonesia Raya”

Lamanya upacara proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah satu jam. Walaupun sederhana dan singkat, peristiwa tersebut merupakan tanda terbentuknya bangsa dan negara Indonesia yang merdeka. Tiang bendera adalah terbuat dari bambu yang diberi tali kemudian ditanam di teras rumah Sukarno. Penjahit bendera dilakukan oleh Fatmawati Sukarno, dengan bentuk dan juga ukuran yang tidak standar. Sedangkan untuk mikrofon dan pengeras suara pinjam dari toko elektronik.

Penyebarluasan berita kemerdekaan Indonesia

Teks Proklamasi yang telah diumumkan oleh Sukarno tanggal 17 Agustus 1945 tersebut, beberapa saat kemudian telah berhasil diselundupkan ke Kantor Pusat Pemberitaan Pemerintah Jepang Domei (Sekarang Kantor Berita Antara) yang dilakukan oleh Adam Malik, Rinto Alwi, Asa Bafaqih, dan P. Lubis. Pada sekitar pukul 18.30 WIB tanggal 17 Agustus 1945, wartawan Kantor Berita Domei Syahruddin telah berhasil masuk ke gedung siaran Radio Hoso Kanzi (sekarang RRI) dalam rangka untuk menyerahkannya kepada petugas telekomunikasi (markonis) yaitu F. Wuz supaya dilakukan penyiaran berita proklamasi tersebut secara berulang-ulang. Penyebaran berita proklamasi kemerdekaan juga dengan memakai media surat kabar, antara lain : Harian Suara Asia di Surabaya yang merupakan koran pertama yang menyiarkan proklamasi, dan Harian Cahaya Bandung. Para pemuda yang melakukan perjuangan melalui jalur surat kabar yaitu : BM Diah, Sukarjo Wiryopranoto, Iwa Kusumasumatri, Ki Hajar Dewantara, Sayuti Melik, Sutan Syahrir, Madikin Wonohito, Sumanang S.H., Manai Sophian, Otto Iskandar Dinata, G.S.S.J Ratulangi, Adam Malik, Ali Hasyim, dan lain-lain. Penyebaran berita proklamasi juga memanfaatkan pengerahan massa, penyampaian dengan cara dari mulut ke mulut, penyebaran dengan menggunakan pamflet, dan corat-coret di tembok ataupun pada tempat lainnya.

Kronologis Proklamasi Kemerdekaan Perumusan teks proklamasi kemerdekaan di rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda

(sumber foto google )

Rombongan Sukarno-Hatta tiba di Jakarta pukul 23.00 WIB pada tanggal 16-8-1945. Kemudian Hatta meminta kepada Ahmad Subarjo supaya menelepon Hotel Des Indes supaya diadakan tempat rapat, namun ditolak sebab telah pukul 24.000 WIB. Berdasarkan izin dari Jepang, kegiatan bisa dilakukan sebelum pukul 22.00 WIB. Lewat Ahmad Subarjo, kemudian Tadashi Maeda menawarkan rumahnya di Miyokodori yang sekarang dikenal sebagai Jl. Imam Bonjol No. 1, Jakarta untuk dipakai sebagai tempat yang aman dalam proses persiapan kemerdekaan Indonesia yaitu untuk menyusun naskah Proklamasi Kemerdekaan. Pertemuan dihadiri oleh Sukarno, Hatta, Ahmad Subarjo, para anggota PPKI, dan para tokoh pemuda antara lain : Sukarni, Sayuti Melik, BM Diah, dan Mbah Diro. Mereka yang merumuskan Teks Proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia berada di ruang makan, antara lain:

  • Sukarno yang memegang pena dan kertas klad, lalu menulis naskahnya.
  • Mohammad Hatta dan Ahmad Subarjo yang mengemukakan ide-idenya secara lisan. Pada kesempatan tersebut Ahmad Subarjo yang menyampaikan kalimat pertama dengan berbunyi “Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia”. Kemudian Moh. Hatta menyampaikan untuk kalimat yang keduanya dengan berbunyi sebagai berikut: “Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”.
  • Selanjutnya dibacakan di ruang depan. Sukarni merupakan orang yang mengusulkan agar yang menandatangani naskah tersebut adalah Sukarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia. Usulan dari Sukarni tersebut disetujui oleh semua yang hadir.
  • Konsep naskah proklamasi kemerdekaan kemudian diserahkan kepada Sayuti Melik supaya dilakukan pengetikan. Perubahan yang dilakukan oleh Sayuti Melik yaitu.- Tulisan “tempoh” dirubah menjadi “tempo”.- Tulisan “wakil-wakil bangsa Indonesia” dirubah menjadi” “atas nama bangsa Indonesia”.- Tulisan “Djakarta, 17-08-’05” diganti menjadi “Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen ‘05”.(Mungkin teman-teman bertanya mengapa proklamasi tahunnya ’05? ini merupakan kependekan dari tahun 2605 karena penanggalan yang dipakai pada waktu Indonesia diduduki Jepang memakai kalender Jepang yang saat itu adalah masuk pada tahun 2605)
  • Sesudah pengetikan telah selesai dilakukan, maka naskah teks proklamasi tersebut ditandatangani oleh Sukarno-Hatta.

Persiapan Kemerdekaan Indonesia

Akhir Kekuasaan Jepang di Indonesia

(sumber foto google

Sampai dengan akhir tahun 1944, kedudukan Jepang dalam Perang Pasifik dalam kondisi yang sangat terdesak. Pasukan jepang di mana-mana mengalami kekalahan terhadap tentara Sekutu (Amerika Serikat Inggris, Kanada, dan Australia). Kondisi tersebut juga diperparah lagi dengan pengeboman terhadap 2 kota di Jepang yaitu Hiroshima pada tanggal 6-8-1945 sedangkan Nagasaki pada tanggal 9-8-1945 oleh sekutu di bawah pimpinan Amerika Serikat. Dari kejadian tersebut, maka semakin terbukalah jalan untuk bangsa Indonesia menuju kemerdekaannya. Kemudian keadaan tersebut dimanfaatkan oleh para pejuang dan rakyat Indonesia dengan sebaik-baiknya yang telah lama menantikan datangnya suatu kebebasan dari penjajahan bangsa lain. Kemudian bangsa Jepang melakukan bermacam usaha untuk menarik simpati dari bangsa Indonesia.

  1. Pada tanggal 7-8-1945, terjadi perubahan nama yang tadinya bernama BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) berganti menjadi PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Tidak hanya nama yang mengalami perubahan namun keanggotaannya pun mengalami perubahan yaitu tidak melibatkan orang-orang Jepang. Konsep dari dasar negara Pancasila, rancangan UUD (Undang – undang Dasar) walaupun merupakan hasil dari BPUPKI, namun secara yuridis formal disahkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Sehingga perubahan dari BPUPKI menjadi PPKI adalah merupakan proses nasionalisasi dari segala bentukan bangsa Jepang yang ada di Indonesia.
  2. Pada tanggal 9-8-1945, oleh Panglima Angkatan Perang Jepang di Asia Tenggara yang bernama Marsekal Terauchi memanggil para tokoh nasional antaar lain Sukarno, Moh. Hatta, dan juga Rajiman Wedyodiningrat ke Dalath/Saigon/Ho Chi Minh di Vietnam. Kemudian pada tanggal 11-8-1945, pukul 11.40, Panglima Angkatan Perang Jepang tersebut melantik Sukarno-Hatta sebagai ketua dan wakil ketua PPKI. Selain hal tersebut terdapat pula agenda yang lainnya antara lain (a) mengenai waktu Indonesia merdeka, dan (b) pembahasan kembali mengenai batas-batas dari wilayah Indonesia sebagai suatu negara yang merdeka ialah bekas jajahan kolonial Hindia Belanda. Sesudah dilakukan pembahasan lebih lanjut, maka disetujuilah bahwa kemerdekaan akan diumumkan yaitu pada tanggal 18 Agustus 1945.
  3. Pada tanggal 14-8-1945, rombongan sampai kembali di tanah air. Kedudukan Jepang semakin sulit, kemudian pada tanggal 15 Agustus 1945 Jepang menyerah terhadap Sekutu di atas geladak kapal perang Amerika yang bernama USS Missouri yang pada saat itu sedang berlabuh di teluk Tokyo, diumumkan oleh Kaisar Hirohito. Kemudian berita mengenai menyerahnya bangsa Jepang tersebut terdengan oleh Syahrir melalui siaran radio Amerika (Voice of America) yang selanjutnya berita tersebut disampaian kepada Moh. Hatta yang meneruskan berita tersebut kepada Sukarno.

Peristiwa Rengasdengklok

Peristiwa Rengasdengklok merupakan salah satu dari proses persiapan kemerdekaan Indonesia yang mana terdapat perbedaan pandangan antara kelompok yang tua dengan kelompok yang muda mengenai kapan proklamasi kemerdekaan akan dilaksanakan. Perbedaan yang terjadi oleh karena setelah mendengar kekalahan bangsa Jepang atas Sekutu.

  1.  Sikap golongan tuaMereka selalu memiliki sikap yang hati-hati dan tetap terhadap pendiriannya atas perjanjiannya dengan Terauchi yaitu sesudah rapat PPKI (18-8-1945) tepatnya pada tanggal 24-8-1945. Pertimbangan yang diambil mereka berani melanggar ketentuan tersebut sebab mereka khawatir jika terjadi pertumpahan darah. Walaupun Jepang sudah mengalami kekalahan, tetapi kekuatan dari militer yang dimiliki di Indonesia masih sangat kuat.
  2. Sikap golongan mudaGolongan muda mempunyai sikap yang penuh dengan emosi dan menginginkan supaya secepatnya untuk mengumumkan proklamasi proklamasi kemerdekaan, paling lambat tanggal 16-8-1945.
  3. Supaya tidak mengecewakan, maka kemudian Hatta mengajaknya ke rumah Sukarno. Kemudian oleh Hatta diterangkan apa maksud dari kedatangannya bersamaan dengan Sutan Syahrir, namun Sukarno belum bisa menerima usul dari Sutan Syahrir tersebut. Selanjutnya Sukarno beralasan bersedia untuk memberi proklamasi, aabila sudah melakukan pertemuan dengan anggota PPKI yang lainnya. Kemudian Sutan Syahrir pergi ke Menteng Raya, Jakarta yang merupakan markas para pemuda, dan di Menteng Raya tersebut Sutan Syahrir bertemu dengan para pemuda, antara lain Sukarni, BM Diah, Sayuti Melik, dan lain-lain. Sutan Syahrir lalu menyampaikan laporan kepada para pemuda tersebut, bahwa dirinya sudah bertemu dengan Sukarno. Selanjutnya para pemuda tersebut melakukan rapat pada tanggal 15-8-1945 pada pukul 20.00 WIB di salah satu ruangan di Lembaga Bakteriologi yang berada di Pegangsaan Timur, Jakarta. Chairul Saleh merupakan pimpinan dari rapat itu, dan yang hadir yaitu Johar Nur, Kusnandar, Subadio, Margono, Wikana, dan juga Alamsyah. Keputusan dari rapat tersebut menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan hal dan soal dari rakyat Indonesia sendiri, tidak boleh bergantung kepada orang dan negara lainnya. Lalu untuk mendesak kepada Sukarno agar mau secepatnya melaksanakan proklamasi kemerdekaan Indonesia, tanpa harus menunggu hasil dari sidang PPKI, maka para pemuda tersebut mengutus Wikana dan Darwis supaya menemui di kediaman Sukarno yaitu Jl. Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, pada pukul 22.00 WIB. Hasil dari pertemuan tersebut adalah Sukarno belum bersedia untuk memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia tanpa PPKI. Oleh sebab tidak mencapai kesepakatan, maka kalangan pemuda bermaksud mengamankan Sukarno-Hatta ke luar wilayah Jakarta. Tanggal 16-8-1945 tengah malam, kemudian para pemuda melakukan rapat di Asrama Baperpi, Cikini Jakarta. Pemuda yang hadir adalah Sukarni, Yusuf Kunto, dr. Muwardi, Shodanco Singgih, dan Chairul Saleh. Keputusan rapat tersebut adalah untuk mengamankan Sukarno-Hatta ke luar Jakarta. Pertimbangan yang dipakai adalah supaya Sukarno-Hatta terlepas dari pengaruh Jepang, sehingga berani untuk memproklamirkan kemerdekaan sendiri. Rengasdengklok (kota kecil dekat Karawang) adalah tempat yang dipilih untuk mengamankan Sukarno-Hatta yang terletak 15 KM dari jalan raya Jakarta-Cirebon. Hal yang menjadi pertimbangan dipilihnya Rengasdengklok adalah Daidan (setingkat batalyon) PETA Jakarta dan Rengasdengklok sering melakukan latihan bersama. Sehinggga dengan demikian, jika ada gerakan pasukan Jepang ke Rengasdengklok bisa secara cepat diketahui dan bisa dihadang oleh kekuatan militer PETA.

Kerajaan Islam di Indonesia

( sumber foto google )
Tujuan Pembelajaran :
agar rekan rencang sinau mengetahui sejarah kerajaan islam di indonesia

Selain Kerajaan Hindu-Budha, ternyata di Indonesia juga ada Kerajaan Islamloh. Munculnya Kerajaan Islam di Indonesia disebabkan oleh para pedagang Islam dari Arab, India, dan Persia yang awalnya singgah untuk berdagang, lama kelamaan menetap dan membangun kerajaan. Ada banyak loh Kerajaan Islam di Indonesia, salah satu yang terkenal adalah Kerajaan Samudera Pasai.

Kerajaan Samudera Pasai didirikan pada tahun 1267 oleh Nizamuddin Al Kamil, seorang pimpinan angkatan laut dari Mesir. Kerajaan yang berpusat di pesisir pantai utara Sumatera dekat Lhokseumawe ini didirikan untuk menguasai perdagangan rempah-rempah, terutama lada.

Masa kejayaan Samudra Pasai

Perlu kamu ketahui, setelah Nizamuddin Al Kamil wafat, kerajaan ini telah beberapa kali dipimpin oleh raja-raja yang juga memberikan pengaruhnya terhadap kerajaan dan masyarakat sekitar. Berikut ini, telah dirangkum nama-nama raja yang pernah memimpin Kerajaan Samudera Pasai beserta masa kepemimpinannya.

Sultan Malik Al-Saleh (1267-1297)

Pada tahun 1267, Kerajaan Samudera Pasai dipimpin oleh Meurah Silu dengan gelar Sultan Malik Al-Saleh. Di masa pemerintahannya, Kerajaan Samudera Pasai berhasil menguasai Selat Malaka yang pada saat itu menjadi pusat perdagangan internasional dengan lada sebagai salah satu komoditas ekspor utamanya. Selain lada, Kerajaan Samudera Pasai juga mengekspor sutra dan kapur barus.

Sultan Muhammad Az-Zahir (1297-1326)

Setelah Sultan Malik Al-Saleh wafat pada tahun 1297, kepemimpinan Kerajaan

Hasil gambar untuk gambar kerajaan samudra pasai
(gambar dirham : sumber google )

Pasai dilanjutkan oleh anaknya, yaitu Sultan Muhammad Malik Az-Zahir. Sang raja baru ini untuk pertama kalinya memperkenalkan koin emas atau dirham sebagai mata uang. Mata uang dirham secara resmi digunakan dalam perdagangan di Kerajaan Samudera Pasai pada tahun 1297. Mata uang ini berupa kepingan emas yang memiliki diameter 10 mm dan berat sekitar 0,6 gram. Sisi atas bertuliskan Muhammad Malik Al-Zahir dan sisi bawah bertuliskan Al-Sultan al-adil yang artinya sultan harus memberi keadilan terhadap masyarakat.

Sultan Mahmud Malik Az-Zahir (1326-1345)

Pada tahun 1326, tahta kerajaan diteruskan oleh Sultan Mahmud Malik Az-Zahir. Di masa pemerintahannya, Kerajaan Samudera Pasai terkenal sebagai kerajaan dagang yang maju. Di tempat ini, banyak dijumpai pedagang dari India dan Cina yang membeli rempah-rempah, terutama lada. Selain itu, di Kerajaan Samudera Pasai terdapat beberapa jenis barang dari Cina yang dapat dibeli pedagang tanpa harus berlayar ke Cina.

Runtuhnya Kerajaan Samudra Pasai

Tidak selamanya kerajaan mengalami kejayaan, pasti ada masanya ia akan runtuh. Sama halnya seperti Kerajaan Samudera Pasai. Pada tahun 1521 di bawah pimpinan Sultan Zain Al-Abidin, Portugis menyerang kerajaan ini karena iri dengan kemajuan dagang mereka yang begitu pesat. Angkatan perang Portugis yang lebih kuat, akhirnya mereka berhasil menaklukkan Kerajaan Samudera Pasai.

Keadaan kerajaan yang melemah ini, kemudian dimanfaatkan oleh Sultan Ali Mughayat Syah, raja Kerajaan Aceh Darussalam untuk mengambil alih Kerajaan Samudera Pasai. Pada tahun 1524, akhirnya Kerajaan Samudra Pasai dimasukkan ke dalam wilayah Kerajaan Aceh Darussalam. Hal tersebut dibuktikan dengan dipindahkan Lonceng Cakra Donya milik Kerajaan Samudera Pasai ke Kerajaan Aceh Darussalam.

Nah, itu tadi beberapa penjelasan tentang sejarah hingga runtuhnya Kerajaan Samudera Pasai. Menarik bukan?


Perbedaan candi hindu dan budha

Hasil gambar untuk gambar candi
(sumber foto google)

tujuan pembelajaran :
Agar teman Rencang Sinau dapat mudah menghafalkan perbedaan candi Hindu dan Budha

Kata candi berasal dari kata candika, yang merupakan salah satu nama untuk Dewi Durga sebagai Dewi Maut. Jadi bangunan candi itu berhubungan dengan Dewi Maut. Terkait dengan itu candi memang merupakan bangunan untuk memuliakan atau memperingati orang yang telah wafat, terutama para raja atau orang-orang terkemuka. Oleh karena itu, ada pendapat bahwa candi berfungsi sebagai makam. Tetapi yang disimpan bukan jenazahnya, melainkan abu jenazah dan benda-benda lain yang disimpan di dalam Pripih. Namun, dalam perkembangannya banyak yang berpendapat bahwa candi adalah bangunan suci yang suci untuk pemujaan.

Candi-candi di Indonesia berbeda dengan candi-candi yang ada di India yang berfungsi sebagai tempat peribadatan atau kuil. Candi yang ada di Indonesia hanya mengambil unsur-unsur teknologi pembuatannya melalui dasar-dasar teoritis yang tercantum dalam kitab Silpasastra, yaitu sebuah kitab pegangan yang memuat berbagai petunjuk untuk melaksanakan pembuatan arca dan bangunan. Untuk itu dilihat dari bentuk dasar maupun fungsi candi tersebut terdapat perbedaan. Bentuk dasar bangunan candi di Indonesia adalah punden berundak-undak yang merupakan salah satu peninggalan kebudayaan Megalithikum.

Bangunan Candi itu ada yang terkait dengan agama Hindu dan juga agama Buddha. Candi sebagai tempat pemakaman hanya terdapat dalam agama Hindu. Candi-candi Buddha dimaksudkan sebagai tempat pemujaan dewa saja. Di dalamnya tidak didapatkan Pripih. Candi agama Hindu, contohnya adalah Candi Prambanan, dan candi agama Buddha adalah Candi Borobudur. Kedua candi tersebut memiliki perbedaan, yaitu pada bagian puncak candi. Puncak candi agama Hindu berbentuk ratna. Sedangkan puncak candi agama Buddha berbentuk stupa.

Hasil gambar untuk gambar candi

Candi merupakan bangunan replika tempat tinggal para dewa yang sebenarnya, yaitu Gunung Mahameru. Karena itu, seni arsitekturnya dihias dengan berbagai macam ukiran dan pahatan berupa pola hias yang disesuaikan dengan alam Gunung Mahameru. Candi-candi dan pesan yang disampaikan lewat arsitektur, relief, serta arca-arcanya tak pernah lepas dari unsur spiritualitas, daya cipta, dan keterampilan para pembuatnya.

Pada suatu era dalam sejarah Indonesia, yaitu dalam kurun abad ke-8 hingga ke-10 tercatat sebagai masa paling produktif dalam pembangunan candi. Pada kurun kerajaan Medang Mataram ini candi-candi besar dan kecil memenuhi dataran Kedu dan dataran Kewu di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Hanya peradaban yang cukup makmur dan terpenuhi kebutuhan sandang dan pangannya sajalah yang mampu menciptakan karya cipta arsitektur bernilai seni tinggi seperti ini. Beberapa candi yang bercorak Hindu di Indonesia adalah Candi Prambanan, Candi Jajaghu (Candi Jago), Candi Gedongsongo, Candi Dieng, Candi Panataran, Candi Selogrio, Candi Pringapus, Candi Singhasari, dan Candi Kidal. Candi yang bercorak Buddha antara lain Candi Borobudur dan Candi Sewu. Candi Prambanan di Jawa Tengah adalah salah satu candi Hindu-Siwa yang paling indah.  Candi itu didirikan pada abad ke-9 Masehi pada masa Kerajaan Mataram Kuno.

Adapun perbedaan candi Hindu dan budha sebagai berikut :

Bagian dari candi Budha

  • Cenderung tambun
  • Atap
  • Jelas menunjukkan undakan, umumnya terdiri atas 3 tingkatan
  • Kemuncak Stupa (candi Buddha), Ratna atau Vajra (candi Hindu)
  • Gawang pintu dan hiasan relung Gaya Kala-Makara; kepala Kala dengan mulut menganga tanpa rahang bawah terletak di atas pintu, terhubung dengan Makara ganda di masing-masing sisi pintu
  • Relief Ukiran lebih tinggi dan menonjol dengan gambar bergaya naturalis
  • Tata letak dan lokasi candi utama Mandala konsentris, simetris, formal; dengan candi utama terletak tepat di tengah halaman kompleks candi, dikelilingi jajaran candi-candi perwara yang lebih kecil dalam barisan yang rapi
  • Arah hadap bangunan Kebanyakan menghadap ke timur
  • Bahan bangunan

Bagian dari candi Hindhu

  • Bentuk bangunan Cenderung tinggi dan ramping
  • Atap Atapnya merupakan kesatuan tingkatan. Undakan-undakan kecil yang sangat banyak membentuk kesatuan atap yang melengkung halus.
  • Kemuncak Kubus (kebanyakan candi Hindu), terkadang Dagoba yang berbentuk tabung (candi Buddha)
  • Gawang pintu dan hiasan relung Hanya kepala Kala tengah menyeringai lengkap dengan rahang bawah terletak di atas pintu, Makara tidak ada
  • Relief Ukiran lebih rendah (tipis) dan kurang menonjol, gambar bergaya seperti wayang bali
  • Tata letak dan lokasi candi utama Linear, asimetris, mengikuti topografi (penampang ketinggian) lokasi; dengan candi utama terletak di belakang, paling jauh dari pintu masuk, dan seringkali terletak di tanah yang paling tinggi dalam kompleks candi, candi perwara terletak di depan candi utama
  • Arah hadap bangunan Kebanyakan menghadap ke barat
  • Bahan bangunan Kebanyakan bata merah

Bahan candi umumnya terbuat dari sejarah dan geografi di Indonesia. Para penyerang, penjajah, dan pedagang membawa perubahan kebudayaan yang sangat memperuhi gaya dan teknik konstruksi bangunan. Pengaruh asing yang paling kental pada zaman arsitektur klasik adalah India, meskipun pengaruh Cina dan Arab juga termasuk penting. Kemudian pengaruh Eropa pada seni arsitektur mulai masuk sejak abad ke-18 dan ke-19.